phone: +6285 749 502 240
e-mail: ukm.kommust@gmail.com
facebook : Kommust Organizer
instagram : @ukmkommust
twitter : @kommust
soundcloud : UKM KOMMUST

REFERENSI MUSIK? PENTING GAK SIH?


Editor : UKM KOMMUST | 06/03/2019 1:00 WIB
(image source : Dept. Multimedia Doc.)

“without music, life would be a mistake”, kata Friedrich Nietzsche dalam karyanya Twilight of The Idols, atau ketika Albert Einstein bersabda, “if i were not a physicist, i would probably be a musician. i often think in music, i live my daydreams in music. i see my life in terms of music”.
Yaap! Musik!! Ketukan, banyaknya gelombang yang dihasilkan dalam satuan waktu atau biasa kita sebut dengan frekuensi, disatukan, diracik, diolah sedemikan rupa membentuk rhytm dan nada. Dicampuradukkan dengan suasana hati, lingkungan, nuansa alam, jadilah suatu temuan atau karya terbaik yang pernah dibuat dalam sejarah peradaban manusia ataubahkan jauh sebelum kita para homo sapiens menguasai peradaban dunia. Entah berapa juta karya musik yang telah dihasilkan oleh manusia. Jikasaya ketik disini semua lagu yang pernah diciptakan oleh manusia, mungkin tulisan ini akan rampung 10-20 tahun lagi.
Musik sudah menyatu dengan manusia. 24 jam sehari musik diputar, dinikmati, dimainkan, sebagai teman tidur, teman galau, teman bersenang-senang. Suka tidak suka beberapa genre musik itu hal biasa. It’s normal. Humanis sekali.
Seberapa banyak lagu yang kalian putar setiap hari?
Berapa banyak lagu yang kalian mainkan setiap hari?
Seberapa berpengaruhnya musik dalam kehidupan kalian?
Sudah mencapai tingkat apa kecanduan kalian akan musik?

Musik bisa juga sebagai identitas, karakter, peran. Dan semua itu tidak terlepas dari apa yang kita sebut sebagai referensi. Bicara mengenai referensi, perlu gak sih referensi banyak dan sedikit itu? Untuk apa kita punya referensi musik / lagu?
Bagi para pengguna spotify, tau gak bahwa lagu yang dibawain si Drake yang berjudul “God’s Plan” sudah diperdengarkan sebanyak 1,224,384,062 orang?! (terhitung hingga 6 Maret 2019 02.40 P.M). Bisa dibayangkan, kurang lebih 20% penduduk dunia yang mendengarkan lagu ini.
Seberapa sering anda mendengarkan lagu lagu semacam Katty Perry, Jessie J?
Atau lagu-lagu mainstream semacamnya?

Tinggal bagaimana kita memposisikannya bukan? Sebagai penikmat lagu atau penggemar band/solo, sebagai peneliti, sebagai kritikus atau sebagai young dreamer mungkin?
Kali ini, saya akan memposisikan sebagai seorang pemula, seorang yang berangan-angan, bermimpi untuk menjadi pencipta karya musik. Tentunya kita tidak bisa terlepas begitu saja dari musik atau lagu yang pernah kita dengar bukan? Itulah mengapa band Indonesia seperti Edane terdengar sekilas mirip dengan AC/DC, atau Koes Plus seperti The Beatles, atau Nidji seperti perpaduan Coldplay dengan Keane pada album pertamanya, atau lagunya Armada yang berjudul “jangan pernah kau selingkuh” mirip dengan laguna Starsailor yang berjudul “Silence is Easy”, dan banyak lagi ratusan karya lainnya.
Buat apa referensi musik itu sih?
Ngaruh gak sama karya kita?
Malu gak sih musik kita cuma gini gini aja?
“waktu reff yaa maeinin aja distorsi gitarnya, biar gak kayak intro...”
“taunya aku yaa Cuma Am – C – Em – G aja siih, apaa itu Am7? Diminished? Buat apa sih chord Aug itu?”
asa riweh!

Okey, akan saya coba bantu sedikit, selanjutnya kalian sendiri yang lakukan...
Berapa biji, puluh atau ratusan lagu yang pernah kalian dengarkan?
Berapa album yang pernah kalian tamatkan?
Berapa lagu yang pernah kalian cover?
Berapa lagu yang pernah kalian ciptakan?

Siapa sih yang gak kenalDrake, Hailee Steinfeld, Adele, Twenty One Pilots, Coldplay, Kodaline, BTS, Dewa 19, Iwan Fals, Sheila on 7, Peterpan, Payung Teduh?
Coba kita balik pertanyaannya, pernah tau or dengerin Slowdive, Michael Kiwanuka, Phil Collins, Prince, Seal, Sade, Annie Lennox, God is An Astronout, Yes, Procol Harum, atau Krakatau?
Jleb!
Bebas laahh...!!, kita tidak bisa memaksakan diri atau orang untuk mendengarkan musik yang tidak mereka ketahui. Musik bukan hanya selalu melulu tentang lifestyle atau sekedar biar dikata peduli rakyat tertindas dengan mendengarkan Iwan Fals, anak penikmat kopi senja jika mendengarkan Payung Teduh, atau anak super hits dengan mendengarkan Martin Garrix, ( soo naive for me... )
Sebagai penikmat musik, memang bebas kita mau dengerin itu-itu saja, namun akan sangat menjadi blunder jika kita sebagai pelaku musik hanya terpaku dengan referensi mainstream.
Atau mungkin band / karya kita bisa cepat booming, laku di pasar, ribuan yang streaming, maen di tv, menjadi kaya.
what next?
Di era 2000 an di Indonesia, puluhan atau ratusan band instant yang bermunculan dengan sajian musik ala kadarnya, cenderung sedikit menjiplak lagu dengan lebih atau kurang dari 8 bar untuk notasinya, tenar 1 lagu atau 1 album, kemudian stuck dan menghilang. Atau lebih terkenal dengan gossip-gossip atau over pencitraan, kasus sengketa harta, perceraian daripada karya musiknya.
Perlu kita contoh baik apa yang sudah diperbuat oleh para pendahulu-pendahulu musik kita. Sebut saja Sting, ada berapa prosentase berita fenomenal yang bersifat pribadi dan terlepas dari musik dibandingkan dengan berita tentang karya musiknya?
Untuk membentuk karakter yang kuat, setidaknya kita melakukan riset setidaknya 8.000-10.000 jam. Begitu kiranya kata-kata yang pernah saya baca, lupa entah siapa yang membuatnya. Tentu kita tidak bisa membandingkan apa yang sudah nabi musik kita lakukan dalam berkarya. Wolfgang Amadeus Mozart yang meninggal di usia 35 tahun, musisi asal Salzburg ini menghasilkan 626 komposisi yang terdiri dari beragam genre. Atau seorang pianis nyentrik Asal Kroasia Maksim Mravica yang hampir setiap hari bermain piano selama 10-12 jam per hari!
Apa yang sudah kita telurkan dalam usia kita?
Berapa banyak?
Seberapa berkualitasnya karya kita?

Well, hanya kalian sendiri yang mampu menjawabnya bukan?
Life is full of choice, jangan berhenti berkarya, perluas tujuan berkarya, karena berhenti bermimpi adalah seburuk-buruknya eksistensi manusia.

Penulis : @setyoanggono

0 comments:

LATEST VIDEO